Demi bikin cover judul yang sesuai ekspektasi. Maafkan muka yang entah nggak bisa dikondisikan itu.
Selamat pagi menjelang siang.

Hari ini dingin. Padahal matahari di hari Minggu itu lagi panas sekali, sebelum sorenya berganti dengan hujan yang selalu bikin senewen setiap pulang kerja part time. Apalagi kalau bukan soal malas memakai jas hujan. Iya, hujan yang datang nggak deras-deras amat, tapi cukup bikin kuyup kalau sudah sampai kosan. Pakai jaket bahan kain katun juga percuma, tetap akan basah dan malah bikin masuk angin. Pake jas hujan juga malas karena... ya hujannya cuma kayak gitu aja. Nggak deres-deres amat.

Tadi sebelum berangkat kerja, aku dapat LINE dari temanku yang nanya "Tiw, puasa nggak?". Asumsiku kalau aku nggak puasa, mungkin dia akan ngajak aku makan siang. Padahal... mana bisa aku makan siang. Keinginanku cuma sebatas ingin saja, nggak sampai dilakukan. Kujawab saja, "Puasa. Kerja. Kesiangan sahur." Berharap dia paham bahwa sebenarnya aku lapar, ingin makan, tapi tidak bisa karena aku puasa dan bekerja.

Kesiangan sahur. Itu yang terjadi hari ini mengingat aku terbangun dengan kaget dan segera meraih ponsel.

05.21
Demi apa? Demikian jam di ponsel tidak salah menunjukkan waktunya. Aku kesiangan. Fix. Telak. Terlewat beberapa jam dari waktu sahur dan waktu subuh. Hampir menangis karena tenggorokan rasanya sepi sekali. Dahaga tak terlampiaskan, perut keroncongan. Tapi terima kasih Tuhan, aku masih sempat solat subuh, meski hitungannya sudah telat. Tak apa. Katanya lebih baik solat terlambat sesaat setelah bangun daripada tidak solat sama sekali. Tapi entah kalau bangunnya lebih siang lagi. Kan sudah masuk waktu dhuha.

Hari sebelumnya adalah tidur terbaikku sepanjang beberapa bulan ini, terlebih ketika bulan Ramadhan. Aku terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Kadang meskipun sudah tidur-tiduran di kasur sejak jam 9, aku baru bisa benar-benar tertidur sekitar jam 1. Parahnya, karena pola tidur yang demikian berantakan, aku jadi selalu bangun siang. Itu sungguh mengganggu. Tidur tidak berkualitas dan bikin badan cepat lelah. Rasanya tidak ingin kemana-mana, apalagi pindah ke lain hati. Loh?

Jadi, kenapa aku bilang kemarin itu tidur terbaikku? Semuanya berawal pada satu titik masalah yang sama. Pikiran yang selama ini menjebakku untuk berpikir ulang. Hal-hal ekstrem yang sebelumnya pernah aku rasakan, kemarin sempat membuatku merasa ingin-nangis-tapi-nggak-bisa-nangis. Gimana coba? Iya, perasaan semacam itu yang selalu dan sering datang menjelang waktu-waktu kesepianku. Tiba-tiba seperti ada kebisingan yang sontak bicara di telinga, bertanya tentang mengapa aku bisa begini. Tapi nyatanya aku cuma diam saja, menatap layar ponsel. Merasakan kantuk yang menggerogoti penglihatanku, kemudian aku jatuh... tertidur di jam 20.38.

Terbangun sekali di jam 23.21 aku merasakan ketenangan dalam tidur yang terasa sangat panjang itu. Memutuskan untuk tidur lagi dan terbangun kembali di jam 02.48, aku bangun sebangun-bangunnya dengan perasaan lega. Aku nggak cuma "tidur ayam" kayak biasanya. Aku tidur dengan luar biasa nikmat seperti tanpa beban, seolah-olah perasaan kacau yang mampir sebelum tidur itu cuma ilusi.
---

Perempuan pagi itu bukan aku,
tapi gadis yang tidak suka bangun pagi itu aku.

Kalimat yang terketik dalam tulisan ini cuma semu
Atau seolah-olah supaya kau tak jemu

Ada yang bilang,
Bangun pagilah supaya harimu terang
Sebab, pagi membuat tenang

Ada yang bilang lagi,
Jika kau tak mau bangun pagi,
Maka aku akan pergi.

Aku cuma terpana sekali lagi,
Melihatmu yang beranjak pergi
Seperti deretan elegi di waktu pagi
Sebab itu... aku enggan bangun pagi.
---

Purwokerto, didera rasa gelisah yang amat sangat.
4 Juni 2017. 11:23.