Judul: Bidadari yang Mengembara | Pengarang: A. S. Laksana | Penerbit: Gagas Media | Tahun Terbit: Cetakan Pertama, 2014 | Tebal Buku: 160 hlm. | ISBN: 979-780-699-5

Yoga merekomendasikan saya buku kumpulan cerpen ini sewaktu berkunjung ke book fair beberapa tahun lalu. Saya lupa kapan tepatnya mengadopsi buku ini, saking sudah lama dan ingatan kian memudar. Yang saya ingat cuma waktu itu saya ke sana bersama Yoga dan juga Haw—yang pada saat itu sama sekali tidak membeli buku, alias cuma lihat-lihat saja.

Saya sudah pernah membaca kumpulan cerpen A. S Laksana sebelumnya yang berjudul Murjangkung, tapi entah memang otak saya nggak nyampe untuk model sastra semacam itu atau bagaimana, saya belum menemukan esensi bagus dari sudut pandang manapun seperti yang Yoga bilang. Saya suka, tapi tidak bisa menjelaskan bagian mana bagusnya. Ini sebuah keanehan mungkin karena memang saya tidak mengerti dan tidak mencoba memahami. Sebuah poin kesimpulan yang cukup dini sebagai pembuka ulasan suka-suka ini.

“Yog, ini bagus?” kata saya ketika menunjukkan buku Bidadari yang Mengembara.

“Kalau lu udah baca Murjangkung, nggak usah ragu lagi buat beli itu.” Dibilang seperti itu, ya tentu saja saya menurut, mengingat selera sastra Yoga saya anggap lebih baik daripada saya.

Bidadari yang Mengembara punya 12 cerita pendek yang berbeda, tetapi ketika membacanya sampai akhir, saya menemukan benang merah dari keseluruhan ceritanya, Nama Alit mendominasi hampir di banyak cerita pendek di dalam buku ini. Hingga saya berpikir kalau Alit ini memang tokoh utama dan menjadi penyambung antara cerita satu dengan yang lainnya.

Membaca kumpulan cerpen ini saya merasa kayak dibawa menelusuri gang-gang kecil yang penuh rahasia; penuh cerita-cerita yang sudah umum terjadi, tapi masih dianggap hal menjijikan atau mengganggu bagi sebagian orang. Rasanya seperti kena tampar sekaligus caci maki di muka karena terlalu banyak pengabaian pada hal-hal demikian. Ironi memang.

Ketika cerpen pembuka yang berjudul Menggambar Ayah saya baca, jujur saja saya jadi merasa kalau banyak orang di luar sana yang melakukan hal semacam itu memiliki kerinduan yang teramat besar pada ayahnya. Entah, kenapa A. S. Laksana bisa sedemikian jeli membuat narasi seapik ini dalam cerpennya.

Sampai pada cerpen Bidadari yang Mengembara yang diambil sebagai judul kumpulan cerpen ini, saya merasa kalau-kalau cinta itu memang rumit sekali. Sialan, apa pula jenis cinta yang dicari oleh Nita? Saya nggak paham, tapi merasa terusik dengan pencarian Nita untuk seorang kekasih yang menganggap dirinya sebagai bidadari?

Sampai di cerpen terakhir berjudul Cerita Tentang Ibu yang Dikerat sungguh punya alur yang mindblowing buat saya. Beberapa kali saya bergumam, “Jangan-jangan si ini teh itu, ya?” atau “Jangan-jangan bener dugaan gue tadi. Ah, kan kenapa jadi gini?”

Secara keseluruhan, saya suka buku ini, tapi saya katakan dengan jujur, saya belum sepenuhnya memahami. Jadi, kalau ulasan ini tidak sesuai, ya mohon dimaafkan saja. Mungkin buku kumpulan cerpen ini akan saya baca ulang saat ada waktu luang nanti dan mencoba mencari makna tersiratnya.

Terima kasih.
Jangan lupa membaca!


Cileungsi, 11 Februari 2020.
21:03