"Hari ini saya berharap akan..."

Silakan isi dengan harapanmu.

Butuh beberapa waktu untuk saya mengisi kalimat semacam itu. Berpikir banyak hal untuk mempertimbangkan atau mencerna apa yang sesungguhnya ada di pikiran saya. Saya nggak pernah bisa mengatakannya dengan mudah. Sama sulitnya ketika saya ditanya, "Apa yang kamu pikirkan pagi ini ketika baru bangun tidur?"

Lalu, apa sebenarnya harapan saya? Harapan untuk siapa dan untuk apa? Apa sebenarnya harapan itu sendiri?

Harapan itu abstrak. Tidak tergambar. Tidak berbentuk. Tidak nyata, tapi diyakini untuk ada dalam kenyataan. Sama halnya dengan cinta, yang selalu dibicarakan banyak orang. Harapan juga erat kaitannya dengan hal yang satu itu.

Pemaknaan saya terhadap sebuah harapan sepertinya cukup rumit. Ada banyak hal yang mampu memengaruhi saya ketika mengutarakan sebuah harapan. Sederhananya, saya selalu mempertimbangkan banyak faktor agar harapan yang saya gantung tidak berakhir sia-sia. Kenyataannya, terkadang semesta berkata lain. Semua manusia punya harapan, tapi hanya sebatas itu. Lini masa bergerak dinamis dan nggak menutup kemungkinan kalau harapan itu jatuh tanpa kita ketahui.

Sederhananya ketika ditanya mengenai harapan tentu saya akan menjawab dengan hal yang baik-baik. Sangat jarang sekali saya mendengar orang berharap untuk hal yang buruk kecuali ia menaruh dendam pada seseorang atau pada sesuatu hal yang membuatnya terpuruk. Harapan selalu berkaitan erat dengan hal baik, kalau ada harapan yang buruk mungkin itu namanya sumpah serapah.

Saya sumpahin kamu jadi kaya raya.

Saya berharap ia mati tertabrak bus.

Dua hal yang sekilas sama, tapi terlihat ganjil dalam penggunaan kalimatnya.

Memaknai harapan dengan sebaik-baiknya.
Pada setiap kesempatan, saya selalu menaruh harapan dengan banyak hal baik. Misalnya, ingin memiliki hidup yang lebih baik lagi. Tapi hidup yang bagaimana yang lebih baik? Apakah ketentraman hati, pikiran, dan kemudahan rezeki? Apakah punya banyak uang juga termasuk konsep hidup yang lebih baik? Apakah menjadi sehat juga masuk konsep hidup yang lebih baik? Penjabaran-penjabaran seperti itu mungkin cukup menguras energi, namun sejauh ini saya perlu tahu jenis hidup seperti apa yang saya mau agar harapan saya tidak jadi sia-sia.

Hari ini, yang hanya terjadi satu kali dalam putaran waktu, saya berharap bisa membahagiakan diri saya sendiri. Bisa dibilang ini harapan yang terlihat mudah, tapi kenyataannya tidak mudah sama sekali. Seringnya, kita menyakiti diri sendiri, sadar atau tidak sadar. Membuat diri kita diliputi kesedihan-kesedihan masa lampau dan bergerak untuk menyalahkan keadaan. Padahal, seharusnya bahagia itu bisa kita ciptakan sendiri, dengan atau tanpa orang lain.

Harapan tentang hari ini dan hari besok atau hari seterusnya mungkin bisa sama atau berbeda sama sekali. Tetapi yang jelas hari ini saya mau berharap untuk bisa bertahan selama 365 hari ke depan dan menjalani hidup dengan baik termasuk dengan risiko-risikonya. Saya tahu, jalan hidup di depan masih panjang dan nggak pernah tahu akan ada apa dan siapa saja yang akan datang ke hidup saya. Tapi dengan harapan itu, saya mengamini bahwa saya akan hidup dengan baik dan menerima segalanya meski tidak baik-baik saja sekalipun.

Ketika harapan itu runtuh karena ketidaksengajaan atau mungkin itu yang diberikan oleh Tuhan, semoga saya siap menghadapinya dan tidak memilih untuk mati bersama harapan itu.

Terima kasih untuk segalanya.

Salam,

Tiwi.