Bagaimana Jika Kita Mulai Menulis Lagi?

Ini tulisan pertama yang akan tayang di 2026. Tulisan yang entah akan kemana jalan ceritanya. Tapi aku ingin membiasakan diri lagi untuk menulis apa saja yang ada di dalam pikiran seperti dulu. Aku sedang menonton drama Korea berjudul Daily Dose of Sunshine, dimana isinya tentang kehidupan di dalam Poli Kesehatan Jiwa, hal yang pernah aku sukai dulu. Seketika aku teringat, bahwa salah satu cita-citaku dulu adalah menjadi Psikolog Klinis atau mungkin Psikiater.

Aku gemar membaca hal-hal yang bersifat kesehatan mental. Menonton drama tersebut membuatku terenyuh, bahwa menjadi penyintas tentu tidak mudah tetapi menjadi dokter dan perawat pun jauh lebih tidak mudah. Aku melihat ke dalam diriku yang mungkin dulu sempat depresi, tetapi tidak sampai harus mengonsumsi obat. Satu-satunya pengalamanku pergi ke psikolog adalah saat terkelam yang pernah aku rasakan. Hidup segan, mati tak mau. Semua seperti sangat berisik di kepala.

Dalam sesi konsultasi, psikologku menyarankan untuk aku menulis hal-hal yang berkaitan dengan emosi, baik senang, sedih, marah, ataupun kecewa. Dahulu, aku akan sangat senang menulis apapun itu. Menulis menjadi sebuah jiwa yang tidak bisa lepas dariku. Maka ketika aku disuruh menulis, baik untuk jurnal maupun pekerjaan, aku dengan senang hati mengerjakannya. Namun belakangan menulis tidak semenyenangkan itu lagi.

Aku mulai membatasi diri untuk membagikan apa yang ribut di pikiranku. Saat senang, aku memilih untuk menyimpannya sendiri, begitupun saat sedih. Aku tidak ingin orang lain tahu emosi apa yang sedang aku alami dan membuatku tampak sangat transparan serta mudah ditebak. Aku tidak ingin orang lain mempelajariku secara bebas dan memberikan asumsi macam-macam. Rasanya sangat memuakkan, aku harus menjadi datar dalam segala hal tanpa bisa membagikannya.

Bahkan di media sosial, intensitasku mengunggah foto dengan caption panjang telah banyak berkurang. Lagi-lagi karena aku tidak ingin "dibaca" dengan mudah. Asumsi-asumsi orang lain itu menakutkan buatku. Aku takut merasa terancam apabila ada hal-hal yang tidak sengaja aku bagikan dan bisa menimbulkan masalah. Namun, di sisi lain, aku membutuhkan suatu hal yang bisa kujadikan terapi untuk segala ketakutanku.

Dahulu, aku terbiasa melihat jalanan sebagai ruang inspirasi. Apapun yang ada di depan mataku bisa menjadi ide untukku bercerita. Aku teringat stiker di pintu bus transjakarta yang sudah mengelupas dan tidak utuh, yang dengan mudah aku jadikan tulisan pada salah satu episode 30 Hari Bercerita. Berbeda dengan saat itu, ketika berada di dalam bus transjakarta, kini aku hanya tertidur dan mendengar musik atau sengaja menonton film. Energiku untuk memperhatikan sekitar sudah berkurang lebih banyak, entah karena apa.

Mungkin hal ini berkaitan dengan pekerjaanku sekarang. Aku sudah resmi melepas titelku sebagai copywriter/content writer setelah masuk ke kantor baru di tahun lalu. Bahkan penempatan tim kerjapun tidak lagi membutuhkan diriku yang gemar menulis, sebagai gantinya aku kini menjadi editor grafis dan video, yang mana hanya kupelajari secara otodidak.

Aku mulai memikirkan ide gila kembali: menulis apa saja yang ada di pikiranku. Segala jenis peristiwa—tanpa kusebutkan secara detail—akan aku curahkan kembali ke dalam blog. Walaupun tak lagi kuperpanjang domain blogku, setidaknya blog ini tetap hidup, setidaknya aku tetap meninggalkan jejak. Sebab, aku tidak tahu apakah pikiran ini akan berakhir menyenangkan atau malah memilukan. Setidaknya, aku punya tempat bercerita dan berani untuk mengutarakannya tanpa ketakutan akan asumsi orang.

Hari ini, bapak masuk rumah sakit. Dan aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Sedih, pasti. Bingung? Mungkin iya. Tapi perasaan-perasaan itu campur aduk sehingga aku tidak bisa mendefinisikannya.


Di dalam bus Transjakarta

September 2026.

Post a Comment

0 Comments